Minggu, 14 Juni 2009

SEJARAH II PURWOREJO

SEJARAH KEDUA. Pada abad ke-19 Bagelen yang wilayahnya meliputi kawasan antara sungai Bogowonto dan sungai Cingcingguling secara paksa diminta dan dijadikan Karesidenan dalam kekuasaan Belanda.

Berdasarkan arsip Karesidenan Bagelen tahun 1930 terdiri dari :
1. Kabupaten Ketanggong (Tanggung) dipimpin oleh Cakrajoyo atau Cakradiwirya (kelak menjadi Bupati Purworejo I, bergelar KRA Cakra Negara) Pada sejarah lain, disebut Sunan geseng murid Sunan Kalijaga yang awalnya tukang deres nira kelapa.
2. Kabupaten Semawung dipimpin oleh Sawunggaling .
3. Kabupaten Kutowinagun (Kebumen)dipimpin oleh Arung Binang ,
4. Kabupaten Reemo, (sekarang daerah Karanganyar Kebumen) dipimpin oleh Sindu Pati, dan
5. Kabupaten Urut Sewu (ledok /sekarang Kab.Wonosobo)dipimpin oleh Adipati Ario Blitar

Ibukota Karesidenan ditetapkan di Purworejo. Kantor Residennya di Kantor Bupati Purworejo saat ini (Otonom) dan sangkala bangunanya Hestining Rasa Hambuka Praja menunjukkan Tahun dibangunnya Kantor Residen. Dalam sejarah berdirinya Kasultanan Yogyakarta , Pada tahun 1746 RM Seojono yang merupakan adik Susuhunan Mataram Pakubuwono II di Surakarta menuntut kepada Susuhunan Mataram Pakubuwana II untuk menepati janji memberikan daerah Sukawati (Kab Sragen saat ini) atas kemenangan Mangkubumi melawan RM Said. Akhirnya terjadinya perjanjian Giyanti bahwa separuh Mataram menjadi milik Mangkubumi. Dalam perjanjian itu pula Mangkubumi diakui sebagai Sultan Hamengkubuwana I yang bergelar Senapati Hing Haloga Sayidin Panatagama Khalifatullah dengan Keraton di Yogyakarta. Berkuasa sejak 6 Agustus 1717 - 24 Maret 1792. Sedangkan Sultan HB II berkuasa sejak tahun 1792 s.d. 1828. Sultan HB sebagai orang yang keras menentang kekuasaan imperialis barat, antara lain menentang Gubernur Jenderal Daendels dan Letan Gubernur Raflles. Sultan HB II juga menentang aturan protokoler baru ciptaan Daendels (Belanda) bahwa alat kebesaran yang dipakai para residen Belanda pada saat menghadap Sultan misalnya hanya menggunakan payung dan tak perlu membuka topi. Perselisihan antara HB II dan Susuhunan Surakarta tentang batas wilayah daerah kekuasaan juga mengakibatkan Daendels memaksa Sultan HB II turun tahta tahun 1810 dan mengangkat putranya sebagai Sultan HB III, Sehingga dalam keraton terdapat Dua Sultan , Sultan HB II disebut Sultan Sepuh dan putranya disebut Sultan Raja. Putra Sultan Sepuh memegang kekuasaan pada tahun 1810. Satu tahun kemudian ketika Pemerintah Belanda digantikan oleh Pemerintah Inggris dipimpin Letnan Gubernur Raffles, Sultan HB III turun tahta dan kerajaan dipimpin oleh Sultan Sepuh (HB II) kembali selama satu tahun (1812) Pada Masa kepemimpinan Sultan HB III keraton Yogyakarta mengalami kemunduran yang besar besaran antara lain :
Kerajaan Yogyakarta harus melepaskan daerah Kedu ( Magelang, Wonosobo, Temanggung, Purworejo dan Kebumen), separuh Pacitan, Japan, Jipang dan Grobogan kepada Inggris diganti kerugian sebesar 100.000 real setahunnya.Angkatan perang kerajaan diperkecil dan hanya beberapa tentara keamanan keraton.Sebagian daerah kekuasaan keraton diserahkan ke Pangeran Notokusumo yang berjasa kepada Raffles dan diangkat menjadi Pangeran Adipati Ario Paku Alam I.
Dalam Babad Dipanegara lan Babad Nagari Purworejo yang naskah ini bertuliskan dalam Bahasa Jawa Akasara Jawa dalam bentuk Macapat (naskah ini ada di Perpustakaan Nasional KBG No. 5 sebanyak 703 halaman Rol 07 No 04, saya Ngapdurojak juga memiliki sebagian naskah fotokopinya) Naskah tersebut ditulis sendiri oleh Raden Demang Cakradiwirya (R. Adipati Cakranegara, Bupati Purworejo I ) tahun 1854, mengisahkan tentang perang Diponegoro yang berkobar di pulau Jawa antara tahun 1825 – 1830. Dalam tulisan tersebut menceritakan tentang pengalaman Cakradiwirya yang mengikuti Pangeran Kusumadilaga dalam memerangi Pasukan Dipenegara di daerah daerah : Banyumas, Kedu, Kebumen , Pajang dan Mataram . Sesudah peperangan selesai , dua tahun kemudian Cakradiwirya diangkat menjadi Adipati di Purworejo bergelar Cakra Negara I . Dalam menceritakan peristiwa perang Dipanegara , mula-mula dikisahkannya huru hara yang timbul di Kesultanan Yogyakarta. Huru hara itu timbul sejak tersingkirnya Sultan Hamengku Buwana II, yang digantikan oleh putranya, Yaitu Sultan HB III. Yang memegang peranan terpenting dalam tersingkirnya Sultan HB II dan naik tahtanya Sultan HB III, pemegang peranan ialah Pangeran Diponegoro. Oleh karena itu sebagai jasa kepada putranya, Sultan HB III akan mengangkat Ontowiryo atau pangeran Diponegara sebagai Putra Mahkota. Akan tetapi Pangeran Diponegoro tidak bersedia menerima anugerah ayahandanya, sehingga akhirnya yang diangkat menjadi putra mahkota RM. Suraya, sedangkan kelak Pangeran Diponegoro akan bertindak sebagai penasehatnya. Rencana tersebut terlaksana. Akan tetapi lama kelamaan kedudukan pangeran Diponegoro sebagai penasehat Sultan terdesak, dan banyak hal yang menyebabkan Pangeran Diponegoro berselisih dengan Patih Danureja yang disokong oleh Belanda.Pangeran Diponegoro akhirnya tidak bersedia ikut turut campur dalam urusan pemerintahan dan menyingkirkan diri ke Tegalrejo, dan membentuk kekuatan. Pemberontakannya terhadap keraton sejak kepemimpinan HB V (1822) dimana Diponegoro menjadi salahsatu anggota perwalian yang mendampingi Sultan HB V yang berusia 3 tahun sedangkan pemerintahan sehari hari dipegang oleh Danurejo bersama residen Belanda. Cara perwalian ini tidak disetujui Pangeran Diponegoro. Itulah pangkal dari pecahnya perang Diponegoro yang sesungguhnya. Yang berlangsung dari tahun 1825-1830. Pada tanggal 28 Maret 1830 Di Magelang Diponegoro ditangkap dan diasingkan ke Ungaran, Semarang dan ke Jakarta, 8 April 1830 ditawan di Tadius Jakarta, 3 Mei 1830 diberangkan ke Manado dengan kapal Pollux ditawan di benteng Amsterdam. Tahun 1834 dipindah di tawan di benteng Rotterdam Makassar Sulawesi Selatan. 8 Januari 1855 Diponegoro wafat dan dimakamkan di Kampung Melayu Makassar, Saat ini lokasi tersebut berada di pinggir jalan Diponegoro Makassar Sulawesi Selatan. Bagi yang ingin berziarah silakan. Sebetulnya saat penulis berada di Ambon Maluku, terdapat Makam keluarga Pangeran Diponegoro, namun tidak tahu pasti apa yang menyebabkan ada makam pula keluarga Diponegoro di Ambon Maluku.

Sejarah berdirinya Purworejo tak lepas dari sejarah kerajaan Kesultanan Yogyakarta. Setelah Perang Diponegoro Selesai maka daerah tersebut diambil alih oleh Belanda dan dijadikan karesidenan. Pada 13 Februari 1831. ketika masa Pemerintahan Cakra Negara. Pada tahun tersebut dibangun Masjid (saat ini masih ada disebelah barat alun-alun) serta bedug terbesar di dunia bedug PENDAWA. Serta membangun Pendapa yang juga terbesar di seluruh Indonesia (saat ini menjadi kediaman dinas Bupati Purworejo). Maka Belanda memberikan penobatannya menjadi Bupati Purworejo I karena jasanya mengalahkan Diponegoro.
Sebagai suatu pemukiman , Bagelen ditempati oleh sekelompok manusia sejak awal masa sejarah dan kemungkin bahkan masa prasejarah. Hal tersebut dibuktikan oleh sering ditemukannya di deerah tersebut berupa menhir, candi, lingga , yoni, stupa, prasasti situs maupun artefak lainnya.

2 komentar:

  1. mohon informasi soal nama Tohwongso dan adiknya Tohjoyo yang dikenal oleh masyarakat Pundung Putih Ungaran sebagai orang-orang yang ikut membangun benteng William II. Konon Tohwongso kemudian berpihak pada Diponegoro, sementara adiknya berpihak ke Belanda dan menjadi pejabat di Semarang. Katanya lagi, keduanya berasal dari Purworejo, dan kuat dugaan masih kerabat / keturunan dari Sultan Amangkurat IV.
    Saya sangat membutuhkan informasi itu, jika ada kabar, mohon hubungi di frans_joko@yahoo.com
    Terima kasih banyak, salam hormat
    Setiawan Joko

    BalasHapus
  2. assalamualaikum mas purwo, menawi bedug pwj kanthi nami Pendowo sejarahe gimana mas. suwun

    BalasHapus