Senin, 15 Juni 2009

BANGUNAN BERSEJARAH

Pendopo Kabupaten

Ingat Purworejo ingat kota yang memiliki banyak pahlawan nasional, dan tak lupa sebagai kota Pensiunan. Memiliki banyak potensi wisata, makanan khas, tempat-tempat bersejarah dengan bangunan yang kuno. Bangunan tempo doeloe tersebut juga masih banyak berdiri kokoh dan seolah kita masih dalam masa-masa tempo doeloe meski berada di tahun abad ke-21.







Pendopo terbesar di Indonesia, Bedug terbesar di dunia, dan memiliki alaun -alun sekitar 8 hektar ditengah kota. Masjid berada di barat alun-alun , Masjid Setren di Bagelen dan Masjid al Iman Loano berdiri sejak tahun 1486 Masehi sebagai peninggalan murid Sunan Kalijaga yang berdakwah hingga Bagelen. Banyak bangunan bersejarah juga masih beriri seperti bekas Kantor Residen Bagelen (Kantor Bupati saat ini) . Stasiun Kereta Api (bangunan lama) dan terminal lama















Busana Bagelenan

Rancangan Busana Bagelenan

Setelah berlangsung lebih dari 10 tahun, Team Perancang Busana Bagelen, yang terdiri dari : Masduqi Simor, SH (Dinas KPI),selaku Ketua, Drs Basuki Budi Rahardjo (SubDin Kebudayaan), selaku Sekretaris dan beranggotakan, Drs. R Istiharto (budayawan), Drs, Mangkutrisno (Sejarawan), Radix Penadi (Sejarawan), Soekoso DM, BA (budayawan), Sardiatmoko (budayawan), Oteng Suherman (budayawan), Wasito Adi, BA (budayawan) dan Drs, Eko Riyanto (sejarawan), melalui metoda : study literatur, study lisan atau interview dan study pengamatan peninggalan sejarah, telah berhasil menciptakan Rancangan Busana Bagelenan sebagai salah satu ciri jatidiri Kota Purworejo.
Busana Bagelenan memiliki sifat-sifat yang terkandung dalam Prasasti Kayu Ara Hiwang yang mencerminkan : Masyarakat Religius, Toleran, Prihatin, Temen Tumemen, Membangun, Gotong Royong, Setia dan Perwira/Ksatria, Wani Ngalahan, dan andhap asor

Bagian dari Busana Bagelenan meliputi :
(a) Bagian Penutup Kepala
(b) Bagian Penutup Badan
(c) Asesoris.

Bagian Penutup Kepala disepakati berupa DESTAR atau IKAT KEPALA dari Kain Batik dengan ciri sebagai berikut : (a) Mempunyai KUNCUNG di bagian depan (b) Mempunyai Wiron Sederhana. (c) Mempunyai Jebehan (ujung destar) .(d) Memakai Bros (bila mungkin).



Dasar dari pembuatan KUNCUNG adalah :
(a) Gambar Relief di Candi Borobudur dan Prambanan (b) Gambar atau Foto busana akhir abad ke-19 (c) Gambar Bupati Purworejo RM Soegeng Cokronegoro IV dan (d) Gambar atau Foto orang-orang jaman akhir abad 19 dan awal abad ke-20.



Bagian Penutup Badan terdiri :
(a) Penutup Badan Bagian Atas atau Baju atau Sikepan, terdiri dari 1. ATELA LANDHUNG atau PANJANG 2. ATELA KROWAKAN KERIS
(b) Penutup Badan Bagian Bawah : Celana, Kain Batik, Pengikat Kain.
(c) Alas Kaki

Asesoris dalam Busana Bagelenan terdiri dari : (a)Kalung Ulur-ulur atau Karet (b) Rantai Jam Bandul (c) Bross Kalung (d) Bross Destar (e) Insight Lambang Kabupaten Purworejo.

Busana Putri.
Busana Bagelenan bagi Putri (perempuan) tidak jauh berbeda dengan model busana kebaya biasa, ada yang tanpa Kutu Baru (bef) atau ada pula yang memakai Kutu Baru (bef), disamping kebaya yang landhung (panjang) maupun Pendek atau bahkan busana Bagelenan muslim biasa.




Busana Bagelenan yang merupakan ciri Jatidiri Kabupaten Purworejo baik bagi kaum lelaki tua dan muda serta bagi kaum wanita.

Minggu, 14 Juni 2009

SEJARAH II PURWOREJO

SEJARAH KEDUA. Pada abad ke-19 Bagelen yang wilayahnya meliputi kawasan antara sungai Bogowonto dan sungai Cingcingguling secara paksa diminta dan dijadikan Karesidenan dalam kekuasaan Belanda.

Berdasarkan arsip Karesidenan Bagelen tahun 1930 terdiri dari :
1. Kabupaten Ketanggong (Tanggung) dipimpin oleh Cakrajoyo atau Cakradiwirya (kelak menjadi Bupati Purworejo I, bergelar KRA Cakra Negara) Pada sejarah lain, disebut Sunan geseng murid Sunan Kalijaga yang awalnya tukang deres nira kelapa.
2. Kabupaten Semawung dipimpin oleh Sawunggaling .
3. Kabupaten Kutowinagun (Kebumen)dipimpin oleh Arung Binang ,
4. Kabupaten Reemo, (sekarang daerah Karanganyar Kebumen) dipimpin oleh Sindu Pati, dan
5. Kabupaten Urut Sewu (ledok /sekarang Kab.Wonosobo)dipimpin oleh Adipati Ario Blitar

Ibukota Karesidenan ditetapkan di Purworejo. Kantor Residennya di Kantor Bupati Purworejo saat ini (Otonom) dan sangkala bangunanya Hestining Rasa Hambuka Praja menunjukkan Tahun dibangunnya Kantor Residen. Dalam sejarah berdirinya Kasultanan Yogyakarta , Pada tahun 1746 RM Seojono yang merupakan adik Susuhunan Mataram Pakubuwono II di Surakarta menuntut kepada Susuhunan Mataram Pakubuwana II untuk menepati janji memberikan daerah Sukawati (Kab Sragen saat ini) atas kemenangan Mangkubumi melawan RM Said. Akhirnya terjadinya perjanjian Giyanti bahwa separuh Mataram menjadi milik Mangkubumi. Dalam perjanjian itu pula Mangkubumi diakui sebagai Sultan Hamengkubuwana I yang bergelar Senapati Hing Haloga Sayidin Panatagama Khalifatullah dengan Keraton di Yogyakarta. Berkuasa sejak 6 Agustus 1717 - 24 Maret 1792. Sedangkan Sultan HB II berkuasa sejak tahun 1792 s.d. 1828. Sultan HB sebagai orang yang keras menentang kekuasaan imperialis barat, antara lain menentang Gubernur Jenderal Daendels dan Letan Gubernur Raflles. Sultan HB II juga menentang aturan protokoler baru ciptaan Daendels (Belanda) bahwa alat kebesaran yang dipakai para residen Belanda pada saat menghadap Sultan misalnya hanya menggunakan payung dan tak perlu membuka topi. Perselisihan antara HB II dan Susuhunan Surakarta tentang batas wilayah daerah kekuasaan juga mengakibatkan Daendels memaksa Sultan HB II turun tahta tahun 1810 dan mengangkat putranya sebagai Sultan HB III, Sehingga dalam keraton terdapat Dua Sultan , Sultan HB II disebut Sultan Sepuh dan putranya disebut Sultan Raja. Putra Sultan Sepuh memegang kekuasaan pada tahun 1810. Satu tahun kemudian ketika Pemerintah Belanda digantikan oleh Pemerintah Inggris dipimpin Letnan Gubernur Raffles, Sultan HB III turun tahta dan kerajaan dipimpin oleh Sultan Sepuh (HB II) kembali selama satu tahun (1812) Pada Masa kepemimpinan Sultan HB III keraton Yogyakarta mengalami kemunduran yang besar besaran antara lain :
Kerajaan Yogyakarta harus melepaskan daerah Kedu ( Magelang, Wonosobo, Temanggung, Purworejo dan Kebumen), separuh Pacitan, Japan, Jipang dan Grobogan kepada Inggris diganti kerugian sebesar 100.000 real setahunnya.Angkatan perang kerajaan diperkecil dan hanya beberapa tentara keamanan keraton.Sebagian daerah kekuasaan keraton diserahkan ke Pangeran Notokusumo yang berjasa kepada Raffles dan diangkat menjadi Pangeran Adipati Ario Paku Alam I.
Dalam Babad Dipanegara lan Babad Nagari Purworejo yang naskah ini bertuliskan dalam Bahasa Jawa Akasara Jawa dalam bentuk Macapat (naskah ini ada di Perpustakaan Nasional KBG No. 5 sebanyak 703 halaman Rol 07 No 04, saya Ngapdurojak juga memiliki sebagian naskah fotokopinya) Naskah tersebut ditulis sendiri oleh Raden Demang Cakradiwirya (R. Adipati Cakranegara, Bupati Purworejo I ) tahun 1854, mengisahkan tentang perang Diponegoro yang berkobar di pulau Jawa antara tahun 1825 – 1830. Dalam tulisan tersebut menceritakan tentang pengalaman Cakradiwirya yang mengikuti Pangeran Kusumadilaga dalam memerangi Pasukan Dipenegara di daerah daerah : Banyumas, Kedu, Kebumen , Pajang dan Mataram . Sesudah peperangan selesai , dua tahun kemudian Cakradiwirya diangkat menjadi Adipati di Purworejo bergelar Cakra Negara I . Dalam menceritakan peristiwa perang Dipanegara , mula-mula dikisahkannya huru hara yang timbul di Kesultanan Yogyakarta. Huru hara itu timbul sejak tersingkirnya Sultan Hamengku Buwana II, yang digantikan oleh putranya, Yaitu Sultan HB III. Yang memegang peranan terpenting dalam tersingkirnya Sultan HB II dan naik tahtanya Sultan HB III, pemegang peranan ialah Pangeran Diponegoro. Oleh karena itu sebagai jasa kepada putranya, Sultan HB III akan mengangkat Ontowiryo atau pangeran Diponegara sebagai Putra Mahkota. Akan tetapi Pangeran Diponegoro tidak bersedia menerima anugerah ayahandanya, sehingga akhirnya yang diangkat menjadi putra mahkota RM. Suraya, sedangkan kelak Pangeran Diponegoro akan bertindak sebagai penasehatnya. Rencana tersebut terlaksana. Akan tetapi lama kelamaan kedudukan pangeran Diponegoro sebagai penasehat Sultan terdesak, dan banyak hal yang menyebabkan Pangeran Diponegoro berselisih dengan Patih Danureja yang disokong oleh Belanda.Pangeran Diponegoro akhirnya tidak bersedia ikut turut campur dalam urusan pemerintahan dan menyingkirkan diri ke Tegalrejo, dan membentuk kekuatan. Pemberontakannya terhadap keraton sejak kepemimpinan HB V (1822) dimana Diponegoro menjadi salahsatu anggota perwalian yang mendampingi Sultan HB V yang berusia 3 tahun sedangkan pemerintahan sehari hari dipegang oleh Danurejo bersama residen Belanda. Cara perwalian ini tidak disetujui Pangeran Diponegoro. Itulah pangkal dari pecahnya perang Diponegoro yang sesungguhnya. Yang berlangsung dari tahun 1825-1830. Pada tanggal 28 Maret 1830 Di Magelang Diponegoro ditangkap dan diasingkan ke Ungaran, Semarang dan ke Jakarta, 8 April 1830 ditawan di Tadius Jakarta, 3 Mei 1830 diberangkan ke Manado dengan kapal Pollux ditawan di benteng Amsterdam. Tahun 1834 dipindah di tawan di benteng Rotterdam Makassar Sulawesi Selatan. 8 Januari 1855 Diponegoro wafat dan dimakamkan di Kampung Melayu Makassar, Saat ini lokasi tersebut berada di pinggir jalan Diponegoro Makassar Sulawesi Selatan. Bagi yang ingin berziarah silakan. Sebetulnya saat penulis berada di Ambon Maluku, terdapat Makam keluarga Pangeran Diponegoro, namun tidak tahu pasti apa yang menyebabkan ada makam pula keluarga Diponegoro di Ambon Maluku.

Sejarah berdirinya Purworejo tak lepas dari sejarah kerajaan Kesultanan Yogyakarta. Setelah Perang Diponegoro Selesai maka daerah tersebut diambil alih oleh Belanda dan dijadikan karesidenan. Pada 13 Februari 1831. ketika masa Pemerintahan Cakra Negara. Pada tahun tersebut dibangun Masjid (saat ini masih ada disebelah barat alun-alun) serta bedug terbesar di dunia bedug PENDAWA. Serta membangun Pendapa yang juga terbesar di seluruh Indonesia (saat ini menjadi kediaman dinas Bupati Purworejo). Maka Belanda memberikan penobatannya menjadi Bupati Purworejo I karena jasanya mengalahkan Diponegoro.
Sebagai suatu pemukiman , Bagelen ditempati oleh sekelompok manusia sejak awal masa sejarah dan kemungkin bahkan masa prasejarah. Hal tersebut dibuktikan oleh sering ditemukannya di deerah tersebut berupa menhir, candi, lingga , yoni, stupa, prasasti situs maupun artefak lainnya.

BABAD NAGARI PURWOREJO

Purworejo atau yang dikenal dahulu sebagai Bagelen berdiri sejak 5 Oktober 901 Masehi. Bagelen dahulu merupakan mancanegara Kasunanan Surakarta dan Kasultanan Ngayogyakarta Hadiningrat. Keduanya saling berkaitan dalam sejarah Babad Dipanegara lan babad Nagari Purworejo, Babad Tanah Jawa dan Kitab Negara Kertagama

SEJARAH PERTAMA
Sejarah berdirinya Purworejo, berdasarkan adanya Prasasti “ Kayu Ara Hiwang” atau dikenal sebagai Parasasti “Boro Tengah” Yaitu prasasti tentang peresmian Tanah Perdikan (sima) , Kayu Ara Hiwang yang ditemukan di bawah pohon / tanaman Kayu Sono di dukuh Boro Tengah, tepi sungai Bogowonto atau sungai Watukura. , sekarang masuk wilayah kecamatan Banyuurip.
Prasasti batu Andesit yang ditulis dalam bahasa Jawa Kuna sebanyak 21 baris ini sejak tahun 1890 telah dipindahkan dan disimpan di Museum Nasional Jakarta Jl Merdeka Barat , dengan inventaris No 78. Prasasti Kayu Ara Hiwang menyebutkan tahun Saka 823, bulan Asuji, hari kelima bulan Paro Petang, Vurukung Senin (wuku) Margasira, bersamaan dengan Siva, atau tanggal 5 Oktober 901 Masehi. Saat itu Raka dari Vanua Poh, Dyah Sala (Mala), putra dari Sang Ratu Bajra yang tinggal di Parivutan, telah menandai Desa Kayu Ara Hiwang yang masuk wilayah Vatu Tihang, menjadi tanah perdikan. Daerah tersebut dibebaskan dari segala pajak, kesemuanya itu untuk memelihara tempat suci Parahyangan. Selain itu , pangeran dari Parivutan mensucikan kejelekan.
Dalam Parasasti tersebut diungkapkan bahwa pembebasan Kayu Ara Hiwang dari kewajiban membayar pajak dan menjadi tanah perdikan , meliputi segala yang dimiliki desa , meliputi : katika, guha, katagan, gaga. Juga disebutkan , Rakaryan dari Vatu Tihang., Pu Sanggrama Surandhara, penduduk Gulak yang masuk wilayah Mahmili menerima pakaian ganja haji patra sisi satu set, perak satu kati dan prasada voring sebanyak satu swarna. Dalam prasasti tersebut juga disebutkan para pejabat dari berbagai tempat antara lain dari Paranggang, Padamuan, Mantyasih, Medang, Pupur, Taji, Watu Tihang Kasugihan, Pakambingan, Varu Ranu, Lampuran, Watu Hyang, Alas Galu, Pakalangkyang, Pagar Vsi, Sru Ayun, Sumumilak, dan Kalungan. Para Pejabat yang hadir tersebut menerima Pasek-pasek berupa pakaian berwarna dan emas seberat satu swarga, satu masa enam masa dan dua belas masa, atau perak satu kati atau satu karsa dua masa.
Sedangkan sampai detik ini tempat-tempat yang disebutkan dalam parasasti tersebut diantara masih ada dan masih bisa dikenali, antara lain Mentyasih = Magelang, Vatu Tihang = S(e)olo Tiang (daerah Loano), Taji = Prambanan , Kalughan = Kalongan Loano dan sebagainya..
Dilihat dari tahun dikeluarkannya prasasti tersebut , dipastikan bahwa peristiwa tersebut terjadi pada masa kekuasaan, Sri Maharaja Dyah Balitung Watukura, seorang maharaja terbesar pada masa Mataram Kuno. Dan mempunyai wilayah dan mempunyai wilayah kekuasaan dari Jawa Tengah, Jawa Timur sampai ke Bali. Dyah Balitung dikenal sebagai Pangeran yang memiliki wilayah Palungguhan di lembah sungai Watukura, sungai besar yang mengalir dari Gunung Sumbing sampai kelautan Hindia , pantai selatan Jawa Tengah.
Menurut Van Der Meulen SJ, pendiri Fakultas Sejarah Universitas Sanata Dharma Yogyakarta, wilayah Bagelen berbentuk segitiga, tempat yang sekarang dikenal bernama Ledok, merupakan pojok paling utara dari Bagelen. Basisnya Pantai Selatan, puncaknya Gurung perahu (Dieng) Sungai yang terutama adalah Bogowonto atau Watukura.. Van der Muelen bahkan berpendapat, apa yang dinamakan Holing dalam Tiongkok Kuno seharusnya dibaca Halin, yakni singkatan dari Baghahalin (bagelen), kerajaan yang berlokasi di lembah sungai Bogowonto atau sungai Watukura. Bagelen tersebut sama dengan Pagelen yang disebut dalam Babad Tanah Jawi, kerajaan yang semula diperintah Khulun. Pendapat Van der Meulen tersebut yang menggali isi Kitab Cerita Parahyangan dan Babad Tanah Jawi tersebut, menurut Dr N. Daljoeni merupakan sumbangan yang telah mengobori pronto sejarah yang gelap abad ke-5 sampai dengan abad ke-7.
Sekalipun dalam prassti Kayu Ara Hiwang secara implisit disebutkan nama Sri Maharaja Dyah Balitung Watukura, namun dalam prasasti tersebut disebutkan, nama “Sang Ratu Bajra”. Tokoh ini diduga keras adalah adalah, Rakryan Mahamantri / Maha Patih Hino, Sri Daksottama Bahunbajra Pratipaksaya atau Daksa orang kedua setelah Sri Maharaja Dyah Balitung Watukura. Jadi sebutan “Sang Ratu “ layak diberikan kepadanya karena dalam sejarah perkembangan berikutnya, Daksa adik ipar Balitung naik tahta menjadi raja menggantikan Balitung. Di sisi lain dalam prasasti “Sipater” parasasti batu yang ditemukan di wuwungan (bagaian dalam atap yg tertinggi) Masjid Jenar Kidul tahun 1981 tidak jauh dari lokasi Boro Tengah mengungkapkan pembuatan sebuah “dawuhan” atau tanggul / dam untuk mengairi persawahan. Dalam prasasti tersebut disebutkan nama seorang Samgat dari Kayu Ara Hiwang yang masuk dalam wilayah (anak wanua) Pariwutan dalam wilayah (watek) Ghaluh. Selain itu dalam prasasti “ Tulanana’” tahun 823 Saka. Dyah Balitung Watukura juga disebut sebagai Rakai Galuh, penguasa daerah Galuh. Dengan demikian pendapat Profesor Purbatjaraka, bahwa Dyah Balitung Watukura adalah seorang Pangeran berasal dari Kedu Selatan atau Bagelen adalah benar.
Menurut Prof. Purbatjaraka, nama “Pagelen” atau “Bagelen” itu berasal dari kata “Pagalihan” yaitu daerah yang masuk wilayah Galuh.. Kata “Galih” menurut menurut pendapatnya adalah bentuk karama dari kata Galuh. Contohnya kata Pangguh = Panggih, Lungguh=Linggih, Rungkuh=Ringkih. Dengan demikian , Pegaluhan, Pegalihan, Pagelen, dan Bagelen memang merupakan wilayah kekuasaan Sri Maharaja Dyah Balitung Watukura yang ditandai dengan sebuah aliran Sungai Besar, Sungai Watukura yang kemudian dikenal dengan nama sungai Bogowonto, karena dikedua tepinya banyak Begawan berada. Dalam sejarah berikutnya , daerah Watukura masih dikenang. Ini terbukti dalam naskah Negara Kertagama , Raja Hayam Wuruk masih menyebut nama tersebut. Sedangkan dalam masa kerajaan Demak, Bagelen merupakan suatu propinsi yang dipimpin oleh seorang Tumenggung. Para Kenthol Bagelen memegang peranan penting dalam pembentukan Kerajaan Mataram Islam. Sutawijaya yang kemudian bergelar Sebagai Panembahan Senapati telah mengingat persaudaran dengan para Kenthol Bagelen. Para Kenthol itu pula merupakan pasukan andalan dalam menumpas pemberontaka-pemberontakan maupun dalam operasi operasi militer, termasuk dalam pertempuran melawan VOC di Batavia.
Kesatuan dan kesetiaan orang-orang Bagelen mulai digoyah, tatkala di Kerajaan Mataram timbul pertikaian. Berdasarkan Perjanjian Giyanti , 13 Februari 1755, atas prakarsa VOC Belanda, wilayah Bagelen (Purworejo) dibagi dalam dua bagian sebagian masuk wilayah Surakarta dan sebagian lagi masuk wilayah Yogyakarta. Namun pembagian tersebut tidak jelas batas-batasnya.”Tumpangpuruk, campur baur seperti rujak” Ungkap Laksono salah seorang peneliti. Pemecah belahan ini makin terasa tatkala abad ke-19 pecah perang Diponegoro.